Janji Nemo

Prolog

Catatan perjalanan waktu;

18 bulan dari sekian banyak tahun yang telah, dan akan, berlalu.

“You are…

A ghost

A dream

A past

A lesson

A song

A tear

A smile

A Promise to be Broken”

104_2227 (new)

– Untuk Mimpiku

~~~

Juli, 2007

Mungkin sudah hampir dua tahun sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku tidak pernah mengira bahwa sore itu akan menjadi momen terakhir tentangnya yang tersimpan di kepalaku. Suatu sore yang singkat, tanpa kata-kata. Senyum samarnya hari itu, kini menjadi sebuah misteri tak terpecahkan di benakku. Apa yang ia coba katakan?

Sekarang, saat ini, setelah sekian lama tidak pernah melihat ataupun mengetahui keadaannya, aku masih tetap merasakan rindu padanya. Namun perasaan ini tidak lagi sama seperti rindu-rinduku pada bulan-bulan pertama sejak hari terakhir itu. Pada masa itu, aku sering sekali menangis, bahkan hampir setiap hari. Tidak pernah berhenti bertanya “Mengapa?” (Yang bahkan sampai saat ini aku belum tahu jawabannya. Aku hanya berusaha tidak terlalu memikirkannya lagi. Aku percaya bahwa ada pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Mungkin sama seperti pertanyaanku ini). Aku merasa benar-benar sedih dan dikhianati. Ya, dia telah mengkhianati diriku, mengkhianati janji yang aku rasa telah dia buat untukku; untuk selalu di sisiku.

Tidak adil rasanya kalau tidak sedikit menceritakan siapa dia (setidaknya siapa dia bagiku). Dia adalah Nemoku. Dia adalah alasan mengapa aku begitu terobsesi pada buku Cintapucino. Dia adalah wujud hidup dari karakter Nimo pada novel itu. Begitu mirip, sampai membaca tentang Nimo sama seperti membaca tentang dirinya. Dia muncul di saat aku penuh dengan pertanyaan tentang cinta sejati. Begitu penuh pertanyaannya sampai aku membuat suatu permohonan agar aku dapat bertemu dengan cintaku, dan aku berjanji bila suatu saat nanti kami terpisah, aku akan selalu menunggu dirinya sampai kami dipertemukan kembali oleh takdir. Dialah jawaban atas doaku, setidaknya itu yang aku yakini sampai saat ini. Tidak ada alasan khusus mengapa aku begitu menyukainya. Takdirlah membuat aku menyadari mengapa dia begitu spesial bagiku, dan entah mengapa aku juga merasa bahwa dia juga merasakan apa yang aku rasa. Ada begitu banyak hal yang membuatku tersenyum setiap kali aku mengingat dirinya. Begitu banyak hal-hal kecil yang ia lakukan untukku, hal yang terasa begitu berarti bagiku. Aku tahu bahwa dia tidak sempurna, tapi entah mengapa, di hatiku, dia selalu sempurna.

Dia adalah senyum dalam kesedihanku

Dia adalah air mata dalam keputus-asaanku

Dia adalah harapan dalam ketakutanku

Dia adalah maaf dalam penyesalanku

Dia adalah Cinta Pertamaku

Dulu hingga saat ini

Sudah begitu lama semua berlalu, tetapi setiap kali aku merasa sepi, dialah yang terlintas di benakku. Setiap kali aku merasa putus asa, dia kembali dalam ingatanku. Aku tidak tahu mengapa, tapi begitu sulit menghapus bayangnya dari hatiku. Seolah dia selalu di sana, mengingatkanku pada doa dan janji yang dulu pernah aku buat. Aku selalu merasa bersalah padanya setiap kali teringat janji itu. Apakah benar dia adalah jawaban dari doaku? Apakah benar aku harus menunggunya?

Aku harap ini bukan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

Sudah tidak terhitung berapa kali aku telah mencoba untuk berlari dari bayangnya. Berlari dari harapan bahwa suatu hari dia akan mencariku, bahwa dia akan menemukanku. Tapi semua sia-sia. Semakin keras aku berusaha berlari darinya, hatiku semakin terluka. Aku berusaha merelakannya dengan berpikir bahwa ia di sana pasti bahagia, bahwa dia baik-baik saja menjalani hidupnya dan begitu pula aku. Aku terlalu takut terluka untuk berharap atau bahkan untuk bermimpi. Aku hanya berusaha untuk menghapus sebanyak mungkin, yang aku bisa, perasaanku tentang dirinya.

Mungkin aku marah padanya

Mungkin aku benci dia

Mungkin aku kecewa pada semua

Entahlah, aku mungkin hanya terlalu marah, benci, dan kecewa untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan

Tapi anehnya, aku tidak pernah bisa benar-benar berhenti berharap…

~~~

Mungkin…

Setiap kali mendengar kata ‘cinta’, yang muncul di kepala ku adalah dia…

Dulu, aku sering sekali berpikir bahwa bila terjadi sesuatu yang buruk padanya aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku. Karena, masih ada banyak hal yang belum aku sampaikan padanya.

Setiap kali memikirkan ia terluka, hatiku terasa pedih sekali. Aku mungkin bisa memikirkannya, tapi aku tidak bisa membayangkan apabila hal itu benar-benar terjadi pada dia.

Entah mengapa, aku selalu berharap bahwa hanya aku yang merasakan semua ini, hanya aku yang terluka seperti ini.

Entah mengapa, terasa sedih sekali membayangkan dia juga terluka, membayangkan dia tersiksa.

Aku tidak bisa.

Dia…

Mengapa harus dia?

Entahlah.

Mungkin karena dia adalah cinta pertamaku. Mungkin karena hanya dialah cinta yang pernah benar-benar aku rasakan.

Konyol memang, karena jika dipikirkan, cinta ku ini hanyalah cinta semu.

Ya, cinta semu yang seolah terasa nyata padahal, mungkin, tidak pernah benar-benar terjadi. Mungkin saja semua ini hanya perasaan berlebihanku. Mungkin saja, semua ini, semua yang pernah dia lakukan untukku, semua kenangan indah itu, tidaklah nyata. Hanya ilusi diriku yang begitu menginginkan cinta, Putri yang begitu merindukan Sang Pangeran. Mungkin saja.

Menyedihkan sekali ya? Betapa aku selama ini hidup dalam kebodohan yang aku buat sendiri. Bersedih atas duka yang aku karang sendiri.

Entahlah. Aku begitu putus asa.

Begitu putus asa, sekaligus begitu penuh harap.

(Hmm, mana mungkin dua kesadaran yang berlawanan terjadi secara bersamaan dalam diri seseorang?

Tapi itulah yang aku rasakan.)

~~~

August 13rd

… is his birthday.

He’s 21 now.

I really want to say Happy Birthday to him. I do.

But, all i can do is wishing him all the best.

Hope that he’ll find what he’s looking for in this life, that he’ll always find happiness in each of his days.

Kemarin, aku nonton Cinta Pertama.

🙂 Kalimat-kalimat di film itu sungguh menggambarkan perasaanku. Kalimat-kalimat yang selalu terlintas di kepalaku tapi tidak pernah bisa aku ungkapkan.

Setelah film berakhir, aku jadi ingat pertanyaanku dulu sekali:

Mengapa dia tidak pernah mencariku? Mengapa dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya?

Yang kemudian aku sadari jawabannya:

Mungkin karena dia tidak benar-benar mencintaiku

Dan pertanyaan yang saat ini muncul adalah:

Mengapa aku juga tidak pernah mencari dirinya? Mengapa aku tidak mengungkapkan perasaanku kepadanya?

Pertanyaan ini mengagetkanku, karena sebelumnya belum pernah terlintas di kepalaku. Dan satu-satunya jawaban yang muncul adalah:

Mungkin karena aku juga tidak benar-benar mencintainya…

Do you know what is so weird today?

Someone sent me a message. He/she gave me 3 stars of wishes. He/she said that he/she is my biggest fan.

And you know what I think about it?

I think it’s just a joke which is not funny at all. I hate it.

But the question turning up after it is: why it has to be today, on August 13rd?

~~~

He’s always on my mind

Did he ever think about me?

Dia selalu ada

Dia adalah suatu sudut gelap dalam ruang pikiranku

Dia selalu di sana

Mengingatkan aku akan hal-hal yang telah lama berlalu

Setiap kali aku hendak melangkah

Dia selalu menarikku, mencoba membuatku berjalan lebih lambat,

Menunggunya

Dia mengajakku untuk menikmati setiap pemandangan yang kami lewati

Membuat duniaku seperti slow motion yang penuh cahaya menyilaukan

Meskipun dia berjalan di belakangku, tapi seolah dia menuntunku

Memberitahuku ke mana harus melangkah

What’s on his mind every time he remembers something about me?

Will we ever meet again?

Deep in my heart, I know the answer

I’m just too afraid to believe it

I’m afraid everything would be too late

I’m too afraid of letting him go,

Afraid that shadow of him will fade away… (and leave me here, alone)

~~~

Things

that remind me on him:

  •        Accidentally in Love – Counting Crows
  •        Futsal/sepak bola
  •        Jazz merah
  •        Armageddon, Braveheart, Last Samurai
  •        Band di café
  •        … being alone

Aku juga ga tahu apa yang sebenarnya aku ingat dari dia 🙂 Yang aku punya cuma kenangan-kenangan yang bahkan sudah mulai memudar. I don’t even know how he looks like now. Yang ada di benakku cuma sosoknya waktu SMA dan waktu terakhir kali bertemu.

Apa dia masih sering main bola? Itukan kegemarannya. Dia pinter banget maen bola. Atau apa dia lebih suka maen band? (Hmm… aku sebenarnya lebih suka dia maen bola dari pada nge-band, I think he’s not really good on it. Hhehehee…)

Apapun yang dia lakukan sekarang, aku berharap dia tetap seperti dulu: baik dan rendah hati.

Juga berani bermimpi.

~~~

I don’t know what to say

Everything is different now

Sekarang aku sudah tidak lagi mencari. Bukan karena aku telah menemukan, atau karena aku sudah bosan. Aku cuma merasa tidak ingin lagi. Semua pertanda, semua wajah-wajah yang terlintas, semuanya membuatku merasa lelah hingga tak ingin lagi.

It’s not I don’t believe in love anymore.

I do believe in it and I know there’s one for me, somewhere out there. Aku cuma ga mau menunggu lagi. Aku sadar bahwa telah ada banyak hal yang berharga terlewat begitu saja hanya karena aku selalu menunggu. Tapi aku juga ga mau terus berusaha mencarinya. Aku ingin dia yang menemukanku, entah bagaimana. Mungkin semua ini terdengar sangat konyol, begitu egois, tapi itulah yang hati ini inginkan.

For now, I just wanna live my life. Aku harap semangat dan harapan baru dalam hati ini dapat membantuku melewati hari dengan lebih baik.

And I never stop hoping that someday I’ll find what I’ve been looking for. Someday.

Ya Allah, berikanlah kekuatan

Bantu hatiku untuk menemukan apa yang dia cari

Bantu hatiku untuk dapat melihat cinta yang sesungguhnya

Beri aku kekuatan untuk dapat tetap berdiri menghadapi cobaan

Beri aku kekuatan agar tidak menyerah pada keadaan

Agar aku dapat tersenyum bahagia pada akhirnya

Terima kasih, ya Allah, untuk semuanya

~~~

Life, oh Life..

Hidup memang aneh…

Di saat aku begitu dapat melupakan dia, tiba-tiba saja momen itu datang. Momen dimana dia begitu dekat denganku, namun (tetap saja) aku tidak bisa melihatnya. Momen di mana sepertinya takdir mempermainkanku. Hanya aku, tidak orang lain. Tapi mengapa? Aku tidak bisa mengerti. Aku yang begitu ingin bertemu dengannya, demi satu janji, mengapa sepertinya tidak juga diijinkan bertemu, atau bahkan sekedar melihat dirinya? Mengapa sepertinya dunia kami begitu jauh? Hanya bagiku, tidak orang lain..

Semalam aku bermimpi tentangnya, tentang teman2 SMA-ku. Mungkin karena aku begitu merindukannya. Dalam mimpi itu aku mataku selalu tertuju padanya, berharap dia melihat ke arahku dan mengatakan sesuatu. Tapi seperti biasa, bahkan dalam mimpi sekalipun, tidak ada dia untukku. Semua ini membuat aku gila! Pasti ada suatu alasan mengapa aku tidak bisa melepaskan dia dari pikiranku, bahkan setelah sekian tahun berlalu. Apakah alasan itu karena aku memang sudah gila??? Ya Allah, tolong beri aku petunjuk apa yang sebenarnya terjadi..

Dia adalah obsesiku

Obsesi yang aku tidak tahu kapan akan berakhir

Obsesi yang akan membuatku gila bila tidak segera diakhiri

Dia membuatku mengharapkan sesuatu yang aku tahu tidak mungkin terjadi

Aku yang meyakitinya

Membuatnya terluka dan pergi menjauh

Dan sekarang aku yang begitu menginginkan hadirnya

Apakah ini kebodohan?

Aku ini egois dan bodoh

Dan dia pasti benci sekali padaku

Yang paling jauh dalam hidup ini adalah masa lalu. Karena, seberapa jauh pun kita pergi, kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu.

~~~

People said that…

Sesuatu yang hilang akan kembali bila kita benar-benar mengharapkannya. Tapi menurutku, sesuatu yang hilang akan kembali di saat kita sudah dapat merelakannya, tidak lagi mengharapkannya.

Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Seakan-akan, aku sedang berada pada batas antara menginginkan dan merelakan dirinya. Jika aku melangkah satu langkah ke depan, maka aku akan dapat merelakan dirinya. Tapi, jika aku mundur satu langkah ke belakang, maka aku akan kembali pada penantianku.

Aku tidak tahu langkah mana yang akan ku ambil. Akankah aku bisa merelakan dirinya?

Aku takut dia kembali di saat aku telah melangkah ke depan, melupakan dirinya. Aku takut semua itu akan membuatku tidak lagi berani melangkah. Menahanku. Tapi aku tidak akan tahu bila aku tidak melangkah sama sekali.

Saat ini, aku bisa melihat begitu jelas ke masa depan. Perjalananku masih panjang dan aku tidak punya waktu untuk menunggu masa lalu.

Aku tahu semua ini tidak akan mudah. Tapi aku harus tetap melangkah, karena aku tidak akan pernah tahu bila aku tidak melangkah sama sekali.

~~~

My steps…

Hidup itu seperti jalan setapak, membimbing kita ke suatu tujuan.

Aku merasa sedang berjalan di jalan setapakku.

Jalan yang sepi. Saat ini, di sekelilingku hanya ada semak belukar. Tapi aku tidak takut. Aku terus melangkah. Aku yakin pada tujuanku.

Mengapa cinta ada antara pria dan wanita?

Apakah cinta sejati itu?

Aku tidak tahu, yang aku punya hanyalah masa lalu dan masa kini.

Akankah semua yang aku punya dalam hidup cukup untuk menemukan jawabannya?

Aku tahu bahwa setiap orang punya takdir masing-masing. Tapi mengapa mereka seolah dituntut untuk hidup dengan satu jalan cerita yang sama? Tidakkah mereka berhak atas cerita mereka masing-masing? Mungkin memang terdengar menakutkan, hidup dengan cara sendiri, menjadi berbeda. Namun, mungkin itulah takdir sebagian dari mereka; untuk menjadi berbeda.

Aku tidak akan menyerah pada pria biasa. Aku ingin pria hebat-ku. Biarlah orang mengatakan aku kekanak-kanakan, pemimpi, atau apapun. But, this is all I have in mind. This is me. My thought about love, about being loved.

Bukan pria yang mudah menyerah, bukan pria yang takut, dan bukan pria yang sombong. Pria Hebat-ku. Dan aku rela menunggu dirinya. Betapapun merindunya diri ini, betapapun takutnya hati ini, aku tidak akan berhenti berharap untuknya.

Mungkin ceritaku akan berbeda dengan cerita mereka. Mungkin bagi mereka ceritaku tidak menyenangkan. Tapi, hati ini terlalu sombong untuk hidup dalam kebahagiaan semu. Karena cerita ini adalah mimpi yang terlalu indah untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

~~~

First love never died…

So did passion, obsession.

He was my obsession, my passion, my first love.

Aku ingat lorong panjang itu, tempat terakhir kali aku melihatnya.

Dalam ingatanku, lorong itu terasa begitu panjang. He stood there, talked with another girl, and he stared at me. I didn’t know what was on his mind that time. And maybe, I will never know.

Satu hal yang tersisa dalam hatiku jika teringat semua itu adalah penyesalan. Entahlah, rasanya aku begitu kufur apabila tidak mensyukuri yang telah terjadi. Karena, selain kesedihan ini, aku merasa sangat beruntung pernah merasa begitu bahagia. Hanya saja, seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin memberi dia kesempatan. Aku ingin dia tahu bahwa sebenarnya dia juga ada dalam hatiku. Tapi, saat itu semua terasa begitu indah sehingga aku tidak yakin itu nyata.

Aku sadar bahwa manusia tidak bisa mencurangi takdir. Aku tahu bahwa meskipun aku bisa mengubah masa lalu, pada masa kini belum tentu ada kebahagiaan. Mungkin memang sudah takdirku untuk mengenangnya seperti ini. Berakhir pada lorong panjang itu. Aku harus bisa merelakannya agar ia bisa bahagia, agar aku bisa bahagia.

Hmm, masa lalu memang sangat manis untuk dikenang kembali. Terlalu manis bahkan. Aku tidak tahu kapan aku bisa benar-benar melepas dirinya. Akankah hari itu ada?

Seseorang di masa depan pasti akan sangat cemburu bila membaca tulisan-tulisanku ini. Hmm, tapi dia pasti tahu bahwa pada akhirnya bersama dialah aku memilih untuk menghabiskan sisa hidupku.

Aku bahagia pada hidup dan semua yang terjadi di dalamnya!

~~~

Aku kira semuanya telah berakhir. Ternyata belum.

Aku menonton film My Sassy Girl, film yang bercerita tentang dua orang kekasih yang menciptakan Jembatan Kesempatan. Dan, aku pun teringat padanya..

Kenapa tidak pernah ada orang yang bisa membuat aku merasakan seperti apa yang ku rasakan padanya?

Mengapa janji itu selalu terlintas dalam ingatanku?

Aku tahu aku bersalah karena tidak pernah berusaha membuat Jembatan Kesempatan untuknya. Sehingga, sampai saat ini pertanyaan dalam hatiku tidak pernah terjawabkan.

Masih tersimpan sedikit harapan di hatiku. Harapan yang cukup untuk membuatku masih ingin berjumpa dengannya. Sedih terasa bila membayangkan bilakah kami bertemu.

Mungkin selamanya dia tidak akan pergi dari hatiku. Dan aku tidak tahu apakah aku cukup beruntung untuk mendapatkan pengganti dirinya.

~~~

Semua kenangan tentang dirinya terbingkai manis dalam ingatanku

Semuanya, yang membuat aku menangis, tertawa…

Mengapa dia begitu indah?

Air mataku tidak pernah berhenti menetes untuknya

Aku menangisinya seolah dia telah mati, seolah aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi

Aku menangis entah karena bahagia atau bersedih

Tapi kurasa dia adalah semuanya, kebahagiaan dan kesedihan

Aku masih ingat semua

Derap kaki, lambaian tangan, tatapan matanya, senyuman lembut,

sosok dirinya yang berdiri di sampingku. Semuanya..

Sekarang sudah terlambat

Dia telah pergi, dan aku pun tidak bisa berhenti melangkah

Entah sampai kapan kami akan terus saling meninggalkan

Dan entah telah sampai di mana dia sekarang

Namun, apakah dia pernah berhenti sejenak, melihat ke masa lalu?

Jika iya, apakah dia bisa melihat aku?

~~~

It’s Ok

It’s OK if I can’t forget him

It’s OK if I still like him ‘till now

Even if picture of him fade away from my heart,

and a little by little memories of him disappear,

my feeling for him will stay the same

And I said “it’s OK”

Because I can’t lie to my self

That he was the one I really loved

It’s just a little memory, but it last forever

It’s just a short time of my life, but it means a lifetime

Aku tidak bisa berhenti bertanya pada diriku ”Apakah perasaan ini benar?”

Aku sudah tidak percaya lagi pada ’janji’ itu. Semua cuma omong kosong.

Namun perasaan dalam hati ini tidak juga hilang. Selalu menghantuiku.

Apakah perasaan ini berarti?

Bukankah aku bahkan tidak tahu apakah ini berarti baginya?

Lalu, mengapa aku tidak bisa hanya melupakannya?

Seolah-olah aku tidak akan pernah menyukai orang lain seperti aku menyukainya.

Aku masih berharap suatu hari nanti dapat bertemu dengannya, meski aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan bila hari itu tiba.

Aku ingin melihat seperti apa dia sekarang. Apakah dia baik-baik saja?

Apakah dia masih mengingatku?

Selalu pertanyaan yang sama, tapi aku benar-benar ingin tahu.

~~~

 

I can’t escape my promise

I can’t escape him

So, Maybe I just got to fulfill it

All my heart is full of him

Every direction I look, all I can see is him

No matter how far I run away, he’s just everywhere

I always thought that I’m a fool

But, now I don’t care

I’m a fool, so am I

I can’t run anymore

Aku selalu mencoba mengingkari perasaanku, mencoba berlari darinya. Berharap semua masa lalu itu tidak nyata, hanya bayanganku saja.

Namun, di hati ini hanya ada kehampaan.

Aku menjadi tidak tahu apa yang seharusnya aku rasakan karena aku melarang perasaan itu ada.

Karena aku menutup telingaku rapat, tidak ingin mendengar suara di hati.

Tidak peduli apakah dia merasakan hal yang sama.

Memikirkan semua itu, mencoba menerka perasaannya, hanya membuat aku lelah.

Begitu lelah sehingga aku lupa menanyakan perasaanku sendiri.

Aku tidak ingin lagi berlari. Aku tidak ingin lagi mencoba berpaling.

Aku akan mencoba memenuhi janji itu. Aku akan menjadi hebat, menjadi kuat.

Sehingga, kami akan bertemu.

Aku percaya akan cinta. Dan sejauh aku melangkah, belum ada yang dapat  membuat aku ragu, bahwa dia adalah cinta.

I love the way he loved music

I love the way he thought

I love his passion of sport

I don’t understand why,

But I love everything about him

~~~

Kasih…

Apakah cinta itu?

Jelaskan padaku, aku tak mengerti

Mengapa hatiku selalu penuh dengan kesedihan?

Apakah engkau marah padaku?

Aku takut…

Aku takut perasaanku padamu selama ini salah

Dan lebih dari apapun,

Aku benci keraguan ini

Bisakah engkau merasakan hatiku?

Aku mengirimkannya melalui bintang-bintang di langit

Berilah jawaban,

Jelaskan padaku,

Buat aku mengerti,

Agar aku tidak bersedih lagi

Aku tidak berhenti berharap seandainya engkau ada di sini

Sehingga aku tidak perlu sendiri

Ku mohon,

Jangan buat aku menangis lagi

~~~

Just stop it…

I don’t wanna fall in love again

I don’t wanna cry,

I don’t wanna loose anyone again

I’m too tired…

And my wound won’t heal

Perasaan kehilangan itu begitu berat. Seperti lintah yang menempel di tubuh dan tidak mau lepas. Menghisap seluruh energimu, sampai seolah kamu tidak akan hidup lagi. Membuatmu berharap kegelapan menelanmu.

Rasa sedih itu membuat hatimu begitu sesak hingga sulit untuk bernafas. Dan, hanya derai air mata yang bisa menghanyutkanmu.

Aku tidak pernah bisa lupa dia. Dia yang pernah membuat aku bahagia, membuatku berharap, sekaligus putus asa. Dialah yang mengajarkan semua perasaan padaku. Pelajaran yang begitu mendalam hingga aku bisa menghapal semua di luar kepala. Lebih dari Bahasa Indonesia ataupun Biologi.

Lucu, dia adalah alasan jika aku tidak ingin jatuh cinta lagi.

Untuk apa aku punya Nimo yang lain?

Apakah agar aku bisa menangis lebih kencang?

Atau, apakah agar aku bisa merasa lebih kesepian, lebih ditinggalkan?

Aku tidak ingin jatuh cinta lagi…

~~~

Farewell

Seandainya aku bisa kembali ke malam itu,

Aku ingin berlari sejauh mungkin

Membiarkan diriku tersesat hingga tidak bisa kembali

Terus berlari sekuat tenaga tanpa menoleh ke belakang

Meninggalkan semuanya

Aku ingin kenangan itu tidak ada

Aku ingin agar aku tidak perlu merasa sesakit ini

Karena sangat berat mengingat semuanya

Membuatku merasa sangat kehilangan dia

Mengapa dia sedekat dan seramah itu tapi aku hanya bisa diam?

Malam itu adalah satu-satunya malam di mana aku menangis dan dia ada di sana

Dan sesaat aku merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan

Karena dia di dekatku

Malam di mana semua keajaiban dalam hidupku terjadi

Mengapa aku harus mengenangnya seperti ini?

Dan malam ini aku menangis,

Tapi dia tidak juga datang…

Aku mohon,

Berhentilah menyiksaku seperti ini…

~~~

And the time goes by

 

Aku seperti manusia kerdil

Berjalan di antara gedung pencakar langit,

Di antara hutan belantara,

Terpesona pada setiap apa yang aku lihat

Nemo,

Aku sudah tidak mengingatmu seperti dulu lagi

Tidak sama

Namun kamu tetap yang terindah

Seperti kabut warna-warni yang menyelimutiku setiap kali aku merasa sepi

Entah di mana kamu sekarang

Tapi aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu

Nemo,

Air mata hangat masih menggenang di mataku

Tapi aku bahagia

Maaf, aku sudah tidak lagi berharap bisa bertemu denganmu

Mungkin tidak akan ada cukup waktu untukku

Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu menginginkanmu

Namun, lebih sebagai mimpi

Mimpi yang membuat aku merasa berharga

Merasa indah

Nemo…

Aku tidak akan bisa merelakanmu

Aku mohon jangan pergi dari hatiku

Dan biarkan aku menjadi egois

Terima kasih, Kasihku

 ~ END ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s